Mengecek Hidangan di Jepang yang “Aman” untuk Muslim dari Daftar Alergennya

Beberapa tahun terakhir ini, alhamdulillaah sudah makin banyak restoran halal di Jepang. Ada yang sudah mengantongi sertifikat halal dari badan independen, ada juga yang “hanya” mengeklaim menggunakan bahan-bahan halal dengan peralatan masak yang dipisah, tapi tidak mengambil sertifikasi khusus.

Tiap restoran memiliki kebijakan halalnya sendiri. Pengurusan sertifikat halal ini tentunya lebih ribet dan memerlukan biaya tambahan. Selain itu, beberapa restoran juga ada yang tetap menyajikan menu nonhalal dan minuman beralkohol. Jadi, bisa dibilang bahwa keputusan akhir untuk makan di suatu restoran memang kembali kepada tiap pelanggan.

Siam Orchid Supreme, Tokyo Station
Sertifikat muslim-friendly di Siam Orchid Supreme, Stasiun Tokyo
Halal policy from Soup Stock Tokyo
Halal policy dari Soup Stock Tokyo
Donburi Chaya, Otaru
Halal policy di Donburi Chaya, Otaru

Saya sendiri termasuk penganut paham yang tidak mengharuskan adanya sertifikat halal untuk memutuskan makan di suatu restoran. Jika penjualnya sudah menyatakan hidangannya halal, baik secara lisan maupun lewat logo halal yang terkadang dipasang di depan toko, saya memilih untuk berbaik sangka dan makan dengan tenang. Di Jepang sini, warung kebab, restoran Turki, atau restoran kari India dan Pakistan misalnya, tidak sedikit yang “hanya” menempelkan logo halal tanpa memasang sertifikat halal dari badan tertentu. Tapi sekali lagi, kebijakan halal ini kembali kepada kita masing-masing 😊

Kalau di warung kebabnya ada tulisan “halal” begini, saya akan jajan dengan senang hati 🤩
Rose Cafe di Kyoto yang sayangnya sepertinya sekarang sudah tutup 😭
Logo halal pas jajan di stand Samurai Kitchen

Nah, saat mencari tahu apakah menu yang disajikan di suatu restoran yang tidak memiliki sertifikat halal itu “aman” bagi muslim, biasanya saya akan mengecek daftar alergennya. Enaknya di Jepang, informasi ini hampir selalu tersedia di website atau bisa juga kita tanyakan langsung ke staf di restoran. Sepertinya ini memang sudah jadi kewajiban dari pihak pemerintah untuk menghindari risiko munculnya reaksi alergi dari makanan.

Termasuk di antara bahan makanan yang biasanya harus dicantumkan dalam daftar alergen adalah susu, telur, soba, udang, salmon, cumi, daging ayam, daging sapi, daging babi, apel, pisang, gelatin, dsb. Jumlah alergen di dalam daftar ini pun sepertinya terus berubah seiring waktu. Dari beberapa informasi yang saya baca, kabarnya almond baru saja ditambahkan sekitar September 2019 lalu.

Simbol alergen minjem dari sini
Daftar alergen di salah satu food court mal pas saya jajan takoyaki

Tidak hanya di restoran, makanan dan minuman yang dijual di supermarket pun umumnya mencantumkan keterangan alergen ini. Jadi, kita tinggal mengecek apakah ada kandungan bahan makanan yang tidak “aman” untuk muslim. Yang jadi perhatian utama saya tentunya adalah kandungan daging-dagingan, termasuk daging ayam dan sapi yang di Jepang sini umumnya tidak disembelih sesuai hukum Islam.

Hanya saja, salah satu kendalanya adalah hampir semua informasi ini tertulis dalam bahasa Jepang. Tapi zaman sekarang mah sudah praktis, ya. Kita bisa langsung mencari terjemahannya di Internet. Sekitar sebbelas tahun lalu, waktu pertama kali datang ke Jepang, saya masih ingat ketika harus terbata-bata menghafalkan beberapa karakter kanji dari bahan makanan yang harus dihindari. Perjuangan banget rasanya 😅 Btw, pembahasan dalam bahasa Inggris di Savvy ini menarik juga untuk dibaca!

Bagian yang saya tandai merah itu adalah alergen yang terkandung di dalam cokelat dari Lotte ini

Tidak hanya daging-dagingan nonhalal, salah satu poin penting yang juga perlu diperhatikan dari daftar alergen ini adalah GELATIN. Walaupun ada gelatin yang “aman” karena terbuat dari ikan, sebagian besar gelatin di Jepang berasal dari tulang hewani (babi). Gelatin sendiri cukup sering ditemukan dalam berbagai macam dessert, termasuk cheesecake dan puding yang enak banget itu! 😭 Tujuannya sepertinya untuk memberikan tekstur kenyal yang pas dan lumer di mulut.

Terkadang gelatin ini bahkan terkandung di dalam hidangan utama. Saya sungguh gagal paham kenapa mereka harus memasukkan gelatin ke udon, atau bahkan tiram goreng tepung 😧 Mungkin supaya lebih kenyal, ya? 🤔 Jadi, kita benar-benar harus berhati-hati. Menu seafood yang kesannya “aman” untuk muslim pun belum tentu seratus persen terbebas dari kandungan bahan-bahan nonhalal.

Contoh daftar alergen yang bisa dicek di website resmi restoran yang bersangkutan (saya ambil dari Uobei sushi langganan). Tanda segitiga menunjukkan bahwa ada kemungkinan menu yang dimaksud terkontaminasi bahan tersebut karena diproses bersamaan dengan masakan lain, walaupun tidak mengandung langsung bahan-bahan itu.

Selain dari kemungkinan kandungan daging nonhalal, perlu diperhatikan juga bahwa alkohol, atau bumbu masakan lainnya yang berisiko mengandung alkohol, tidak termasuk dalam bahan makanan yang harus dicantumkan di daftar alergen. Untuk kandungan yang lebih spesifik seperti ini, biasanya saya akan menanyakan langsung ke staf restoran, atau bertanya melalui telepon.

Di antara bumbu masakan yang harus diperhatikan adalah mirin (sake untuk masak), shoyu (kecap asin Jepang yang terkadang mengandung alkohol), atau rum dan brandy untuk jenis hidangan penutup. Yang paling sering bikin sakit hati tuh adalah tiap kali menemukan cake cakep yang menggiurkan yang ternyata menggunakan alkohol. Katanya sih untuk menambah aroma atau rasa manis 😭 Walaupun begitu, akhir-akhir ini makin banyak juga kok jenis dessert yang insyaAllah aman untuk muslim 😊

Dessert di Tokyo Camii ini insyaAllah halal semuaaa 🤩

Baca juga: Puasnya Jajan Baklava di Halal Market di Tokyo Camii

Sebetulnya, saya juga ingin membahas tentang kandungan shortening, emulsifier, margarine, dan berbagai ingredient lainnya yang bisa jadi berasal dari hewan nonhalal. Biasanya bahan-bahan ini banyak dipakai untuk kue atau berbagai snack. Tapi mungkin soal ini akan saya bahas terpisah nanti, kalau berhasil mengumpulkan niat untuk menuliskannya di sini *eh 😁

Saya yang adalah pencinta daging sejati sedih banget rasanya waktu makan di T’s tantan yang menyajikan hidangan vegetarian ini 😅
Cuma dua menu ini yang kata stafnya tidak mengandung alkohol seperti mirin, sake, atau lainnya: Tonkotsu-style ramen dan gyoza *ternyata enak juga walaupun gak pakai daging 😋

11 thoughts on “Mengecek Hidangan di Jepang yang “Aman” untuk Muslim dari Daftar Alergennya

  1. Wah tulisan yang menarik!. Apalagi mengulik ragam kuliner yang minoritas di Jepang, salah satunya kuliner halal.

    Kabar baik sih kalo makanan halal semakin banyak dan mudah ditemukan di Jepang. Cuman agak bingung, tentang seberapa tinggi presentase orang-orang yang ingin membeli makanan halal. Tentu dalam teori bisnis, kalau tidak ada “pasarnya”, yah tidak dijual. Kasarannya seperti itu.

    Apakah disana orang-orang juga sudah mulai tertarik dengan makanan halal mbak nov?. Kali saja makanan halal dan makanan konvensional disana berbeda dari beberapa sisi.

    1. Kalau dari analisis mbak sih sepertinya Jepang mengincar turis dari negara2 yang banyak muslimnya, apalagi menjelang Olimpiade Tokyo yang rencananya diadakan tahun 2020 ini. Setelah pandemi COVID-19 ini, dan ditutupnya pintu masuk ke Jepang, otomatis jumlah turis menurun drastis, dan restoran2 halal kena dampaknya 😥

      Pasar domestik tetap ada (lebih ke muslim yang tinggal di Jepang), tapi jumlahnya gak begitu signifikan dibandingkan turis. Beberapa restoran halal ada yang terpaksa tutup, sama juga seperti beberapa restoran lain yang penjualannya gak bisa nutupin biaya operasional dan lainnya..

      Kalau untuk orang Jepang yang nonmuslim, belum banyak yang aware dengan makanan halal, karena dari sisi mereka toh udah “aman” dengan makanan yang selama ini ada. Tapi ya itu, sebagai bisnis, tadinya banyak bermunculan tempat makan yang menargetkan turis muslim. Cuma yaaa, gak tau gimana tren ke depannya bakal gimana.. Semoga bisa tetap makin populer dan bertambah jumlahnya, aamiiin..

      1. Aamiin, insyaAllah nanti bisa ke Jepang biar bisa sekalian nyobain kuliner halalnya juga 😊
        Salam kenal juga, ya, Adis 😊

  2. Kalau di Jepang, entah kenapa gw percaya kalau mereka bilang halal ya halal walau belum ada logo resminya. Kalau di negara lain masih ragu.

    Pernah duluu banget gw mau beli Tokyo Banana, ga dikasih ama penjaga tokonya. Katanya, “muslim no…muslim no”. Ternyata ada ingredient ya yg ga halal.

    1. Iyaaa, orang Jepang berasanya lebih terpercaya dan emang berdedikasi sih yaa..

      Tokyo Banana emang bikin dilema nih, sering banget dijadiin oleh2, padahal ada gelatinnya 😥
      Alhamdulillaah ya penjaga tokonya aware. Tapi ya itu tadi, kalau pembelinya gak ketauan muslim (dari hijab misalnya), ada risiko tetep kebeli, hiks..

  3. Waaa..
    Infonya detail, Mba. Emang mesti teliti sih ya. Terakhir aku sempat diajarin untuk milih bread mana yang “aman”.
    Btw, kalau takoyaki gimana ya, mba?
    Infonya dari sauce-nya atau mayo-nya yang meragukan. Benar kah, mba Nov?

    1. Iyaaa, roti juga lumayan tricky milihnya gara2 ada risiko bahan hewani, huuu..
      Takoyaki iya Vik, saosnya kadang ada yang mengandung daging babi (mungkin ekstraknya ya buat ngasih rasa). Kalau mayonesnya biasanya sebagian besar aman, walaupun gak semua juga. Jadi biasanya bisa mbak nanya dua2nya. Kadang ada yang sausnya aman, ada yang enggak. Mayones hampir selalu dapet yang aman 🙂

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s