(Tak Sanggup) Camping di Tateyama – Bagian 2

Setelah mengungsi ke Raichoso dan menyelamatkan diri dari dinginnya suhu di dalam tenda, badan saya langsung berasa mendingan berkat peghangat di washitsu (kamar ala Jepang) yang sudah lengkap juga dengan futon empuk beserta selimutnya! 😁

Selain Raichoso, sebetulnya ada juga beberapa lodge lain seperti Raichozawa hyutte dan Lodge Tateyama Renpo yang lokasinya lebih dekat ke arah campsite. Tapi kedua lodge ini sudah tutup untuk masa operasional tahun itu. Jadi, pilihan kami satu-satunya malam itu cuma Raichoso yang harus dicapai dengan mendaki tangga lebih tinggi 😅

Raichoso
Lobi depan Raichoso yang menghangatkan kami malam itu *foto dari website resminya
Raichozawa hyutte
Foto gunung cakep dari website Raichozawa hyutte

Di Raichoso tersedia dua pilihan kamar, ada washitsu yang bisa dipakai private sendirian atau bersama rombongan, dan ada kamar berisi bunk bed yang di-share dengan orang lain (kamar washitsu juga bisa dibuat sharing dengan orang lain kalau sedang puncak musim pendakian dan ramai orang yang menginap). Waktu itu kami diberi kamar washitsu yang private dan per orang dikenakan biaya 6.850 yen. Iya, sekitar 900 ribu rupiah, per orang, bukan per kamar! 😅 Sebetulnya inilah salah satu alasan saya memilih campsite yang harganya 500 yen “saja”! *maklumlah budget terbatas 😂

Tapi setelah saya baca-baca lagi di website Raichoso, ternyata harga 6.850 itu sebenarnya adalah untuk kamar dengan bunk bed. Sedangkan washitsu yang private seharusnya harganya 10.950 yen per orang (kalau yang menginap tiga orang) 😱 Mungkin karena puncak musim gugur sudah lewat harganya jadi lebih murah, atau mungkin juga bapak yang jaga malam itu tak tega melihat tiga pendaki amatiran macam kami yang kedinginan di tenda 😂

Kami dikasih kamar yang private begini *foto dari website resmi Raichoso
Pas nyoba masukin tanggal sama jumlah orang di wesbite Raichoso, klo washitsu yang private harganya mestinya segini
Yang 6.850 itu buat yang bunk bed begini *screenshot dari website resmi Raichoso

Langit terang di tengah bulan purnama

Sejak persiapan berangkat dari Tokyo, sesungguhnya saya sudah berkhayal bisa menikmati pemandangan langit malam penuh bintang dari dalam tenda di Raichozawa. Saya bahkan dengan niatnya mengeluarkan DSLR Nikon yang sudah lama bersemayam di dalam dry box dan rela mengangkut gorillapod supaya bisa foto-foto bintang cakep. Tapi apa hendak dikata, saya yang masih amatiran ini sama sekali tak memperhitungkan fase bulan yang ternyata sedang purnama! Perhitungan cuaca cerah saja tak cukup untuk foto-foto bintang 😅 Langit benar-benar terang benderang malam itu, tapi tetap cakep pastinya 🤩

Raichozawa
Pengennya sih dapet foto milky way kayak beginiiii *foto minjem dari website Raichoso
Rasi bintang bulan Oktober
Raichozawa
Tapi kemudian bulan purnama ngintip dari balik gunung 😂
Raichozawa
Langit jadi keliatan biru terang di sekitar campsite
Raichozawa
Seterang inilah langit malam itu setelah difoto dengan shutter speed agak lamaan
Iseng nyobain moto bulan purnama 😁

Akhirnya kami memutuskan untuk tidur dulu saja malam itu. Sekitar pukul 2 subuh besoknya, kami kembali keluar lodge untuk melihat situasi. Untungnya, posisi bulan sudah mulai bergeser dan ada sisi langit yang sepertinya bisa difoto bintang-bintangnya.

Saya yang baru pertama kalinya mencoba mengambil foto bintang dan belum tahu setting-an yang pas terpaksa mencoba-coba saja, sambil tetap kedinginan tentunya 😅 Hasil fotonya masih jauh dari versi ideal yang saya inginkan, tapi pemadangan langit malam itu sukses bikin saya terpukau!

Lumayanlah foto bintangnya
Raichoso
Raichoso di tengah malam purnama
Foto bintang lagi *udah diedit pastinya, tapi aslinya juga cakeeep! 🤩

Oiya, selama dua hari perjalanan di Tateyama Kurobe Alpine Route ini kami tak mandi sama sekali. Cuma lap-lap badan saja dengan powder sheet andalan dari Biore. Lagian musim gugur begini kan suhunya tak bikin keringatan *alesan 😁

Sebetulnya di Raichoso sendiri tersedia juga fasilitas onsen. Kita bisa berendam dengan air panas sambil menikmati pemandangan gunung yang cakep dari jendelanya. Tapi sayangnya onsen ini tak bisa dipakai private, sementara saya masih belum bisa membayangkan kalau harus menggunakan pemandian air panas dengan sesama cewek (maaf) tanpa busana 😀 Tapi yaa namanya juga di gunung sih, tak boleh berharap seenaknya. Wajar saja kalau tak ada pilihan onsen private, kecuali kalau sanggup merogoh kocek lebih dalam untuk menginap misalnya di Hotel Tateyama yang ada fasilitas private onsen ini! *semua memang tergantung budget yak! 😅

Raichoso
Onsen cakep di Raichoso kalo pas musim bersalju *foto minjem dari website resmi Raichoso
Kami cuman numpang sikat gigi dan cuci muka saja 😁
Air pegunungan bisa diminum langsung

Keesokan paginya kami kembali turun ke campsite untuk membereskan tenda yang ditinggal begitu saja malam sebelumnya. Yang paling melekat di memori saya adalah waktu itu kami menemukan sedikit lapisan embun yang membeku di atas tenda! 😱 Sepertinya mengungsi ke Raichoso adalah keputusan yang tepat. Saya tak bisa membayangkan sedingin apa cuaca di tenda menjelang subuh 🥶 *ya namanya juga tempat camping di ketinggian 2.300 meter, di penghujung musim gugur pula, deeek!

Tenda pun dilipat, diangkut ke Raichoso, dan kami menyelesaikan packing untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Tokyo. Kami kembali menempuh rute yang sama untuk kembali ke Murodo. Pemandangan gunung-gunungnya pun masih tetap sama cakepnya!

Ada kursi goyang di common room di Raichoso
North Alps-nya Jepang 🤩 *masih di common room Raichoso
Beli kartu pos di Raichoso dan dikirim ke rumah buat diri sendiri. Burung raicho itu termasuk spesies yang dilindungi di Jepang

Perjalanan dari Murodo ke Tokyo

Karena hari sebelumnya sudah cukup puas foto-foto dan menikmati pemandangan, hari itu kami lebih fokus mengejar jam keberangkatan bus pulang dari Stasiun Ogizawa. Maklumlah moda transportasi di sepanjang Tateyama Kurobe Alpine Route ini bisa sangat ramai dan tak jarang mengharuskan kita mengantri cukup lama. Bisa gawat ‘kan kalau tak keburu pulang ke Tokyo malam itu juga 😀

Raichozawa
Saatnya kembali mendaki pulang 😀
Tateyama Kurobe Alpine Route
Pemandangan jalan pergi dan pulang masih tetap sama
Mikurigaike
Lewat Mikurigaike lagi
Kayaknya bisa juga deh naik gunung sampe ke ujung sana, lewat jalan memutar 😀

Dari Murodo, kami menaiki Tunnel Trolley Bus sampai ke Daikanbo, foto-foto sedikit dari observation deck di sana, dan langsung melanjutkan perjalanan menumpang ropeway untuk turun sampai ke Kurobedaira. Transportasi selanjutnya dari Kurobedaira adalah cable car yang curam banget itu menuju Kurobeko, tempat Kurobe Dam berada. Masih ada sisa-sisa dedaunan musim gugur yang berwarna-warni di sepanjang jalan pulang ini 😍

Tateyama Tunnel Trolley Bus
Bus yang menembus Gunung Tateyama
Tateyama Tunnel Trolley Bus
Orang-orang tampak lelah di dalam bus, termasuk kami 😅
Daikanbo
Pemandangan dari observation deck di Daikanbo
Melanjutkan perjalanan turun dengan ropeway
Daun2 di sini pun udah mulai rontok 😭
Tapi masih kebagian dikitlah pemandangan cakep dari dalam ropeway
Masih dari dalam ropeway. Makin mendekat ke Kurobe Dam, daun-daunnya masih lumayan hijau
Kurobedaira
Lanjut lagi naik cable car curam ke Kurobeko
Bye bye cable car

Setelah sampai di Kurobe Dam, kami sempat istirahat sebentar sambil foto-foto sedikit. Tak lupa juga menyempatkan jalan sedikit ke observatory untuk melihat tumpahan air yang konon jumlahnya bisa lebih dari 10 ton per detiknya dari dam paling tinggi di Jepang ini! Hari itu hari terakhir gerbang air Kurobe Dam dibuka sebelum ditutup sampai musim operasional tahun berikutnya. Btw, di sini kita juga bisa naik cruise ship selama sekitar 30 menit mengelilingi Danau Kurobe dengan ongkos sekitar 1.100 untuk satu orang dewasa. Sayangnya kami tak sempat mencoba. Mungkin di kesempatan berikutnya *aamiinn..

Kurobe Dam
Jalan menuju observatory space
Kurobe Dam
Pelepasan air terakhir di tahun itu
Kurobe Dam
Kalau yang ini foto pas bulan Juni tujuh tahun lalu, waktu damnya ditutup
Kurobe Lake
Danau Kurobe
Di sekitar sana juga ada pameran yang menceritakan sejarah Kurobe Dam
Lumayan menarik juga penjelasan2nya
Sayangnya waktu itu penjelasannya sebagian besar masih dalam bahasa Jepang. Mungkin sekarang sudah lebih ramah untuk wisatawan asing.

Setelah cukup puas menikmati pemandangan di Kurobe Dam, kami meneruskan perjalanan menggunakan moda transportasi terakhir, Kanden Tunnel Electric Bus. Sesuai namanya, bus ini menggunakan sumber energi listrik untuk menempuh rute menembus Gunung Akazawa-dake sampai ke Ogizawa.

Sambil menunggu bus pulang ke Tokyo di Stasiun Ogizawa, kami sempat iseng bertanya ke petugas di sana apakah ada space yang bisa kami pinjam untuk salat. Sebetulnya kami bisa saja salat di sudut-sudut ruangan di sekitar kursi untuk istirahat sambil bergantian menunggui teman yang salat (supaya bisa memberi penjelasan kalau ada yang bertanya), seperti yang biasanya kami lakukan hari sebelumnya. Tapi dipikir-pikir lagi, tak ada salahnya juga coba bertanya, ‘kan?

Alhamdulillah, petugas yang kami tanyai waktu itu menawarkan ruangan menyusui untuk kami gunakan. Salatnya jadi bisa lebih tenang 😊

Nursery room Ogizawa station
Ruang menyusui yang dipinjamkan untuk kami pakai salat 🥰
Nursery room Ogizawa station
Space-nya cukup banget buat salat dengan tenang
Ogizawa station
Parkiran di Ogizawa tetep penuh ternyata walaupun puncak musim gugur sudah lewat!

Setelah selesai salat dan menyempatkan diri jajan camilan di Stasiun Ogizawa, kami langsung standby menunggu bus untuk kembali ke Tokyo, kemudian mendarat di Shinjuku malam harinya dengan badan remuk redam.

Masukin foto bertiga deh ya sebijik 😁 Minta fotoin ke sesama turis di Murodo pas jalan pulang *tas biru isi kamera Nikon udah gak sanggup lagi saya gendong di depan
Lumayan jugalah ya jarak dan tanjakan yang ditempuh dua hari itu 😀

Lesson learned: Bagi pendaki gunung amatir seperti saya -yang suka sok nekat hiking karena ingin menikmati pemandangan gunung yang cakep, padahal tak pernah olahraga dan pastinya gampang kehabisan napas- ada baiknya untuk memastikan kemampuan fisik diri, apakah sanggup memanggul barang bawaan berat sambil menyusuri track di pegunungan.

Saya sendiri sepertinya tak akan berani lagi camping di gunung, dan akan lebih memilih untuk banyak-banyak menabung supaya bisa menambah budget untuk menginap di lodge. Setidaknya dengan begitu saya jadi tak perlu memanggul sleeping bag dan perlengkapan tenda lainnya. Dan yang paling penting adalah terhindar dari risiko kedinginan 😅

Yang jelas, saya sama sekali tak kapok naik gunung, karena pemandangannya sungguh cakep banget di atas sana! Mungkin tinggal dicari saja rute yang lebih ramah untuk pemula. Saya juga harus lebih pintar mengatur strategi untuk meminimalkan barang bawaan. Untuk sementara ini, target saya berikutnya adalah Karasawa cirque di Kamikochi, atau mungkin Yakushima. Semoga bisa kesampaian dalam waktu dekat, aamiin….

11 thoughts on “(Tak Sanggup) Camping di Tateyama – Bagian 2

  1. Aamiin Mbak 🙏
    Masha Allah pemandangannya spektakuler. 😍
    Bintang-Bintang, bulan purnama dan pemandangan kece, serta cerita yg seru bersama teman seperjalanan. Nice post Mbak 🤩

      1. Sama-sama Mbak 🥰
        Saya lebih seneng lagi baca postingan traveling, berasa lagi dibawa jalan-jalan 🤗😊

      2. Yeay! 😎
        Sepertinya mbak punya stok tulisan jalan-jalannya banyak😄 Masa pandemi belum usai masih bisa menyajikan konten traveling. 🤩🤩🤩

      3. Hehe, iya ni gara2 kebanyakan di rumah, mbak jadi ngubek2 stok foto di hard disk. Masih banyak banget ternyata yang belum sempet ditulisin di blog 😅

      4. Alhamdulillah, jadi masih banyak banget yg belum ditulisin 🤩🤩 ayo keluarin foto-fotonya Mbak, sayang kalau di simpen di hard disk saja 😄
        Pembaca menantimu Mbak. Baca pengalaman travelingnya Mbak, bikin saya terhibur.

      5. Semoga niat ngeblognya bisa terkumpul, mumpung lagi di rumah terus 💪
        Makasih motivasinya, Ai 🥰

    1. Iyaaa, Jepang bersih banget. Mbak juga dulu pas pertama2 nyampe Jepang berasa heran, padahal tong sampah juga gak banyak. Rata2 orang2 bawa pulang sendiri sampah2nya kalo gak nemu tong sampah.
      InsyaAllah Indonesia makin baik ke depannya, aamiin…

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s