(Tak Sanggup) Camping di Tateyama – Bagian 1

Tateyama Kurobe Alpine Route mungkin lebih banyak dikenal di kalangan para wisatawan karena pemandangan snow corridor-nya yang cakep itu. Saya pun termasuk salah satu di antara yang “terjebak” rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mengunjunginya di musim dingin. Tapi setelah beberapa tahun tinggal di Jepang, dan menyadari kalau saya tak begitu kuat menghadapi cuaca dingin, akhirnya musim favorit saya jatuh pada musim gugur. Suhu udara biasanya lebih adem karena sudah lewat musim panas, tapi tak terlalu dingin juga. Daun-daun yang warna-warni sebelum rontok di musim gugur ini menurut saya punya daya tarik tersendiri.

Snow corridor of Tateyama Kurobe Alpine Route
Snow corridor yang tersohor itu! 🤩

Baca juga:  Perjuangan Mengunjungi Koridor Salju di Tateyama

Setelah mengunjungi snow corridor-nya sekitar tujuh tahun lalu, saya jadi tahu kalau pemandangan musim gugur Tateyama Kurobe Alpine Route juga cakep banget gara-gara poster pemandangan  di sepanjang musim yang dipajang di sana. Tapi seperti biasa, cita-cita ini baru kesampaian beberapa tahun kemudian. Maklumlah, saya harus mengumpulkan modal dan mengatur waktu yang pas dengan jadwal kerja 😅

Poster2 model begini ni yang bikin mupeng pengen ke Tateyama teruuus

Mengingat ongkos di sepanjang Tateyama Kurobe Alpine Route ini amat sangat mahal bagi tukang jalan dengan budget terbatas seperti saya, maka biaya perjalanan harus ditekan sebisa mungkin dengan sedikit mengorbankan kemampuan fisik yang sesungguhnya sudah tak muda lagi 😁 Daripada menumpang kereta cepat shinkansen yang mahhhal itu, saya memutuskan untuk naik bus malam dari Tokyo sampai ke Toyama. Selain ongkosnya lebih murah, waktu perjalanan pun bisa dihemat. Jadi, tak perlu mengambil libur banyak. Apalagi waktu itu saya pergi bersama dua teman yang salah satunya adalah salarywoman (sebut saja namanya Afwa 😁). Para pekerja di Jepang sini secara umum lumayan “susah” untuk ambil cuti.

Itinerary yang saya susun waktu itu adalah: berangkat Kamis malam dari Shinjuku, mendarat di Toyama sekitar subuh hari Jumat, mengejar kereta pertama dari sana dan menelusuri rute setengah jalan sampai ke Murodo, hiking sampai ke Raichozawa, camping di sana, melanjutkan setengah perjalanan di sepanjang Tateyama Kurobe Alpine Route keesokan harinya, dan mengejar bus pukul 4 sore dari Ogizawa kembali ke Tokyo! *iyes, masih ambisius seperti biasa 😁

Perlengkapan hiking dikeluarkan dari lemari. Ransel biru yang cilik itu isi kamera 😁

Akses menuju Tateyama Kurobe Alpine Route

Seperti yang sempat saya bahas juga di posting-an saat pergi di musim dingin, Tateyama Kurobe Alpine Route membentang dari sisi Nagano sampai ke Toyama. Karena sebelumnya sudah pernah masuk dari sisi Nagano, kali ini saya memutuskan untuk memutar jauh sampai ke Toyama dan bergerak turun sambil menyusuri jalan pulang ke Tokyo.

Tateyama Alpine Route
Kami menempuh rute full dari Tateyama sampai Ogizawa *screenshot dari website resmi Tateyama Alpine Route

Dari sekian banyak operator bus yang tersedia, pilihan saya jatuh pada VIP Liner. Harganya paling murah untuk keberangkatan di hari yang saya pilih. Untuk soal pemesanan tiket bus malam, biasanya saya membandingkan beberapa operator bus dari website bushikaku yang lengkap banget ini (sayangnya hanya tersedia dalam bahasa Jepang). Bus malam yang saya pesan harganya 3.600 yen saja per orang. Mungkin karena kami berangkat di hari kerja, dan puncak musim gugur di Tateyama pun sudah lewat. Waktu perjalanan dari Tokyo ke Toyama sekitar 10 jam 20 menit *pantesan badan langsung encok-encok dibawa hiking besoknya 😂

Bus VIP Liner kami malam itu nyaman banget, dengan kursi yang bisa dibaringkan cukup maksimal, walaupun posisi tidur tak sampai horizontal banget juga sih 😁 Oiya, kursinya ini didesain bergerak “maju” saat dibaringkan. Jadi, bukan sandaran kursinya yang turun ke arah belakang. Lumayan banget kan kita jadi tak perlu merasa tak enakan sama orang yang duduk di belakang 😊 Di antara kursi juga diberi sekat gorden supaya ada sedikit privasi.

VIP Liner bus
Ada gordennya begini buat sekat antarkursi
Entertainment di dalam bus juga OK
VIP Liner bus
Foto yang lebih keliatan bentuk kursinya *minjem dari website resminya VIP Liner

Perjalanan dari Toyama ke Murodo dan Raichozawa

Bus yang kami tumpangi dari Tokyo mendarat di Toyama sekitar pukul 5 subuh. Saya, Afwa, dan Ambar bergantian salat subuh di salah sudut di luar konbini (semacam warung serba ada) terdekat dari tempat pemberhentian bus. Selesai salat, kami sempat jajan sedikit beli minum dan camilan untuk ransum jaga-jaga di perjalanan, sebelum kemudian ngebut ke Stasiun Dentetsu Toyama mengejar kereta yang berangkat 5.28. Petualangan pun dimulai! 😁

Coretan itinerary kasar perjalanan waktu itu. Budget-nya sekitar 18.320 yen per orang, untuk transportasi saja! 😭
Statsiun Dentetsu Toyama

Stasiun Tateyama yang jadi titik awal Tateyama Kurobe Alpine Route di sisi Toyama bisa dicapai dalam waktu sekitar satu jam dengan kereta dari Stasiun Dentetsu Toyama. Dari Stasiun Tateyama, perjalanan dilanjutkan dengan cable car sampai ke Bijodaira, kemudian transfer ke Tateyama Highland Bus untuk menempuh rute Bijodaira-Midagahara-Murodo.

Tateyama cable car station
Cable car dari Stasiun Tateyama

Di sepanjang perjalanan dengan highland bus, kita akan melewati air terjun Shomyo yang konon kabarnya adalah yang terpanjang di Jepang. Kami sih cuma sempat melihat dari dalam bus saja karena sudah merencanakan untuk turun dan hiking sebentar di Midagahara.

Pengennya sih ngeliat pemandangan kayak begini di Midagahara
Midagahara
Tapi kenyataannya daun2 udah pada rontok 😅 Emang idealnya bulan September kali ya ke sini *buat revenge berikutnya 💪

Sayangnya dedaunan sudah mulai rontok dan tak kelihatan warna-warni lagi di Midagahara. Cuaca memang sering tak bersahabat di bulan September tahun itu. Jadi, saya baru bisa berangkat bulan Oktober, setelah puncak musim gugur lewat 😭 Tapi pemandangannya tetap cakep banget, kok! Dan hiking pendek di Midagahara ini levelnya pas untuk beginner yang hampir tak pernah olahraga macam saya *itu aja tetep ngos-ngosan dan ketinggalan jauh pas harus naik tangga 😅

Midagahara
Pemandangan kota Toyama dari atas gunung
Midagahara
Hiking di permukaan “landai”
Midagahara
Saya selalu ketinggalan karena gak kuat naik tangga 😅
Midagahara
Kakek nenek ini lagi istirahat sambil mau buka bekal kayaknya 😍
Midagahara walking map
Walking map di Midagahara. Kalau tak salah, kami cuma muterin boardwalk short loop saja *screenshot dari website resmi Tateyama Alpine Route

Setelah hiking singkat sekitar satu jam, kami mampir sebentar di lobi hotel di Midagahara, menyantap sepiring dessert sambil menikmati pemandangan cakep dari jendela. Hotel Midagahara ini sendiri berada di ketinggian 1.930 meter dpl, dan konon katanya ada kemungkinan kita bisa menikmati pemandangan sea of cloud juga, bahkan dari jendela hotel!  *jadi keinget unkai terrace di Hokkaido 😍

Pesen apple pie supaya bisa ikutan duduk di lobi hotel 😁
Ikutan menikmati pemandangan dari jendela lobi hotel 😍
Bisa liat unkai begini katanya di Midagaharaaaa *foto dari website resmi Midagahara Hotel
Kalo yang ini foto pas di Unkai Terrace di Hokkaido 😁

Baca juga: Hokkaido’s Road Trip (後編)

Dari Midagahara, kami melanjutkan perjalanan dengan bus ke Murodo. Oiya, tiket terusan yang kami beli hari itu adalah untuk satu kali jalan dari Tateyama sampai ke Ogizawa. Dengan tiket ini, kita bisa bebas berhenti di tengah jalan (misalnya di Midagahara), baru kemudian melanjutkan perjalanan lagi asalkan dalam rentang waktu lima hari sejak tiketnya mulai dipakai. Ada beberapa pilihan tiket lainnya di sini yang bisa dipertimbangkan juga.

Tiket dari Tateyama ke Ogizawa
Midagahara
Bus stop di Midagahara

Kami mendarat di Murodo sekitar jam makan siang. Murodo bisa dibilang adalah spot utama yang banyak dituju para wisatawan. Snow corridor berlokasi di sini. Tapi berhubung target utama hari itu adalah tempat camping di Raichozawa, kami Cuma sempat mampir di restorannya untuk mencicipi menu kari yang muslim-friendly 😋

Karinya lumayan enaklaah
Tapi setelah saya telaah lagi kemudian, ayam yang digunakan sebetulnya belum tentu halal ya, apalagi di situ ditulisnya cuma “pork-free and alcohol-free” 😥 Mesti cari2 informasi lebih lanjut ni buat memastikan kehalalannya
Pesen tempura shiro ebi, khasnya Toyama 😋
Murodo
Ramai orang di Murodo
Murodo
Sok2an moto panorama 😁
Mikurigaike
Langit biru bersih banget hari itu! 😍

Sebetulnya, awalnya saya sama sekali tak kepikiran untuk camping di Tateyama. Niatnya sih cuma mau menikmati pemandangan warna-warni dedaunan musim gugur saja. Tapi posting-an salah satu teman saya di Facebook beberapa bulan sebelumnya bikin saya tergoda untuk mencoba sendiri menginap di lembah gunung yang cakep itu, apalagi kalau bisa dapat bonus pemadangan langit malam penuh bintang *harapannya sih begituuuu, tapi kenyataannya akan saya ceritakan kemudian posting-an di bagian 2 😁

Foto dari almarhum Adrian pas musim panas
Raichozawa campsite
Penuh tenda di bawah sana *foto dari sini

Ternyata perjalanan menuju Raichozawa campsite ini tidaklah mudah, Ferguso! Jarak tempuhnya dari Murodo membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan perbedaan elevasi yang cukup signifikan bagi saya. Belum lagi gembolan yang saya panggul hari itu lumayan berat gara-gara niat bawa kamera DSLR demi bisa foto-foto bintang malam harinya. Penuh perjuangan banget deh pokoknya perjalanan ke campsite ini 😭 Taaapi, semuanya terbayar dengan pemandangan gunung yang sukses bikin terpesona 😍 Walaupun mungkin saya bakal lebih terpana lagi kalau gunungnya masih warna-warni *eh, mesti belajar ikhlas, deek!

Rute yang kami tempuh kira2 samalah dengan yang saya screenshot dari blog orang jepun ini
Di awal2 track sekitaran onsen Mikurigaike
Ambar jadi model tetap saya dua hari itu 😁
All the way to Raichoso
Di bawah situ “jigokudani” atau “lembah neraka” 😅
Raichozawa
Berhasil nyampe Raichoso, udah makin deket ke campsite!
Ambar lagi 😁
Raichozawa campsite
Mulai menuruni tangga
Raichozawa campsite
Makin mendekat ke arah campsite
Raichozawa
Sisa2 perjuangan daun-daun warna merah di gunung
Raichozawa
Pemandangan cakep dari dalam tenda! 😍

Tak begitu banyak orang yang camping di Raichozawa hari itu. Mungkin karena memang puncak musim gugur sudah lewat. Kami langsung mendaftar ke hut pengelola campsite dan membayar 500 yen untuk satu tenda. Selesai mendirikan tenda, salat, dan istirahat sejenak, kami kembali menanjak naik ke salah satu lodge terdekat, Raichoso, untuk makan sore udon (atau soba ya?). Di Raichoso ini kami juga sempat mengisi termos minum dengan air panas untuk dipakai bikin mi instan di tenda malam harinya.

Saat keluar dari lodge dan berencana turun ke tenda, matahari mulai terbenam. Kami tak sengaja melihat beberapa kakek orang Jepang yang sedang foto-foto dengan perlengkapan lengkap tripod dan kamera DSLR canggihnya! Saya yang hampir selalu dirundung awan kelabu dan tak jarang diterpa hujan kalau sedang jalan-jalan, hari itu sungguh bahagia sekali rasanya karena cuaca cerah sepanjang hari dengan langit biru yang bersih parah. Untuk pertama kalinya, saya berhasil mengambil foto matahari terbenam dengan jelas dan cakep! 😍

Usai foto-foto dan mengobrol sedikit dengan para fotografer di sana, kami turun ke Raichozawa dan masuk ke tenda. Makan malam hari itu adalah mi instan Nissin dengan rasa mi goreng Indonesia 😋

Sunset at Raichozawa
Burning sunset at Raichozawa
Foto sunset paling cakep yang pernah saya ambil!
Raichozawa during sunset
Raichozawa dyed in red during sunset
Makan malam mi instan 😁

Lantas, kenapa judul posting-an ini saya beri embel-embel “tak sanggup”??? Karena sekitar pukul 8 malam itu, saya menyadari bahwa saya tak mampu bertahan dengan dinginnya suhu di tenda walaupun sudah mengenakan jaket berlapis-lapis dan masuk ke dalam sleeping bag. Padahal, saya juga sudah semena-mena meminjam sleeping bag paling tebal ke Afwa, yang kata maker-nya bisa tahan sampai minus 10 derajat. Tapi tetap saja, kepala dan hidung saya rasanya sakiiiit banget saking dinginnya 😭

Saya lupa persisnya berapa suhu malam itu. Kalau tak salah turun sampai di bawah nol derajat! Setelah diskusi singkat dengan Afwa dan Ambar di tenda (sebenarnya mereka tidak seperti saya, dan masih kuat dengan suhu di dalam tenda malam itu), saya memutuskan untuk menelepon resepsionis Raichoso dan menanyakan apakah masih ada kamar kosong yang tersedia *maapkeun diriku Fwa, Mbar 🙇‍♀️

Untungnya bapak yang bertugas jaga di Raichoso hari itu masih sedang standby dan bersedia menunggu kami “mendaki” dari campsite. Maka di tengah gelapnya malam (eh lumayan terang deng karena bulan purnama), kami bertiga kembali menaiki tangga yang cukup suram bermodalkan cahaya dari senter di smartphone.

Raichozawa
Kami harus menaiki tangga ke atas sana, ke Raichoso, di tengah gelapnya malam *lebay 😁

Waktu check-in di Raichoso, bapak petugasnya sempat bertanya ke kami, “Udah biasa camping di gunung pas musim gugur begini?” Yang tentunya hanya bisa kami jawab sambil meringis, “Enggak, Pak. Ini baru pertama kali.” 😅

つづく

10 thoughts on “(Tak Sanggup) Camping di Tateyama – Bagian 1

  1. Masha Allah cakep banget! Bawa saya ke sana 😂😅
    Foto panoramanya kece, Mbak.
    Huwaaaaaa foto sunsetnya juga kece masha Allah Indah sekali 😂😍😍😍😍
    Dudu Kakek sama Nenek juga sweet banget, seneng liat fotonya ❤️

    Mbak, Happy Eid Mubarak. Mohon maaf lahir batin. Mohon maaf suka rusuh di blog Mbak liat foto-foto kece 😍😍

    1. Iyaaa, Ai, Tateyama cakep banget deh emang! Tapi butuh “perjuangan” ke sananya 😅
      Kakek nenek Jepang banyak yg romantis deh, menikmati masa tua 😍

      Selamat hari raya Idulfitri juga, Ai. Mohon maaf lahir batin. Taqabbalallaahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum 😊

      Hehe, gpp banget kok, Ai. Mbak malah seneng “dirusuhin” 😁

      1. Sesuatu yg cakep memang selalu butuh perjuangan ya Mbak, dan Selamat untuk Mbak yg sudah berjuang datang ke tempat-tempat kece 😍
        Iya Mbak, seneng banget lihatnya. Suka baper sama pasangan Kakek Nenek di Jepang 😍

        Alhamdulillah kalau seneng 😅

      2. Iyaa nih, beda kayaknya ya rasanya klo dapat pemandangan cakep setelah penuh perjuangan 😁

        Hehe, ditunggu “rusuh”nya 😁

  2. Adeekkk, seru banget ceritanya….

    Berasa flashback, tp tentunya perjalanan Adek lbh seru dan lebih menantang. Pakai camping dan hiking.

    Mantapp pokoknya

    1. Mirip2 ya kak rute kita bablas dari Toyama keluar di Nagano, hehe.. Kk waktu itu gak pake nginep tapi ya? Trus yang kejadian hp jatuh itu bukan sih kak? 😁

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s