Perjalanan Panjang Menuju “Gurun Sahara”

Sudah sejak lama saya memasukkan “trip ke Maroko” ke dalam bucket list. Selain keinginan awal untuk menyeberang Selat Gibraltar dari Spanyol, tentunya jalan-jalan ke Maroko yang saya cita-citakan ini sepaket dengan keinginan naik unta dan menginap di tenda di tengah padang pasir!

Rencana ke Maroko sendiri sebetulnya sudah beberapa kali HAMPIR terlaksana, tapi terpaksa dibatalkan karena berbagai alasan, salah satunya budget yang terbatas 😅 Sampai akhirnya mulai ada titik terang begitu saya tahu kalau salah satu partner-in-crime sesama freelancer (sebut saja namanya Ilva 😁) ternyata juga berminat berkunjung ke negara yang juga dikenal dengan nama Al-Maghrib ini.

Maka setelah melalui berkali-kali perencanaan dan upaya mencocokkan jadwal, escape ke Maroko pun berhasil dieksekusi bulan April lalu!

Perjalanan dimulai dari Bandara Narita, tak lama sebelum sunset 🙂

Kapan waktu paling ideal untuk ke Maroko?

Sungguh saya ingin menjawab, “Kapan saja, asalkan ada jatah libur dan dana yang mencukupi” 😀 Tapi pastinya perlu juga mempertimbangkan cuaca dari musim berbeda di negara yang terletak di benua Afrika ini.

Setelah browsing sana-sini sebelum menentukan tanggal keberangkatan, saya menemukan cukup banyak website atau posting-an blog yang menyarankan untuk berkunjung ke Maroko di musim semi atau musim gugur. Saat suhunya cukup bersahabat dan tidak begitu panas menyengat, tapi tak terlalu dingin juga. Bisa dibilang rentang waktunya adalah sekitar bulan Maret sampai Mei dan September sampai Oktober atau November.

Sementara musim panas sepertinya memang tak terlalu direkomendasikan, apalagi untuk tur ke daerah gurun yang konon kabarnya panasnya sadis bukan kepalang. Guide kami waktu di Maroko sempat bilang kalau sekolah-sekolah biasanya sudah mulai libur musim panas sekitar bulan Juni. Kabarnya, saking menyengatnya hari-hari di musim panas itu, mereka menahan diri sebisa mungkin untuk tidak keluar rumah. Ada juga sih beberapa orang yang berbagi cerita pengalamannya mengunjungi Maroko di musim panas. Tetap memungkinkan dan bisa diakalin supaya tetap menyenangkan.

Oiya, cukup banyak juga saran dari para bloger di luar sana untuk memperhitungkan masa puasa di bulan Ramadan. Mungkin pertimbangannya adalah risiko banyaknya toko yang tutup atau lainnya. Tapi saya mah malah penasaran merasakan suasana Ramadan yang pastinya meriah di Maroko!

Ramadan dan Iduladha ini sebenarnya bergeser tiap tahun, tapi kira2 beginilah gambaran musim di Maroko *foto minjem dari tripsavvy

Saya dan Ilva berangkat ke Maroko sekitar awal bulan April. Salah satu alasan saya adalah demi menghindari harga tiket yang mahal dari Jepang di musim-musim Golden Week di akhir April. Tapi ternyata di luar perhitungan, awal April itu adalah hari libur sekolah di Maroko 😮 Memang sepertinya jadwal libur sekolah ini tidak terlalu besar dampaknya. Hanya saja turis lokal pun jadi agak ramai dibandingkan biasanya di beberapa tempat wisata yang sempat kami datangi. Mungkin karena itu juga ada beberapa agen perjalanan yang membalas email saya dengan jawaban “sudah penuh” waktu saya berusaha memesan paket tur sekitar 2 minggu sebelum hari H, mungkin. Jadi, selain pertimbangan cuaca, ada baiknya juga mencari sedikit informasi tentang musim libur di Maroko.

Pilihan rute tur ke Gurun Sahara

Sebelumnya saya ingin mengklarifikasi bahwasanya gurun pasir yang banyak dimasukkan dalam itinerary berbagai Sahara Tour di Maroko sana sesungguhnya bukanlah Sahara yang “sebenarnya”. Ada yang bilang kalau gurun pasir ini cuma “pinggiran”nya Sahara, bahkan ada juga yang bilang masih “jauh” dari Sahara. Tapi pemandangannya luar biasa banget kok! Jadi, tak masalahlah disebut “Gurun Sahara” *maksa 😁

Secara garis besar, ada dua pilihan gurun pasir yang bisa dikunjungi di kawasan utara Maroko, yaitu Erg Chebbi di Merzouga dan Erg Chigaga di Zagora. Akses ke Zagora memang lebih dekat dari Marrakech (sekitar 6 jam perjalanan dengan mobil), tapi gurun pasirnya sendiri sebenarnya masih agak jauh dari kota, dan kabarnya tak terlalu besar. Jadi, kurang berasa sensasi gurun pasirnya. Sementara untuk mencapai Merzouga, dibutuhkan waktu sekitar 9-10 jam perjalanan dari Marrakech, tapi gurunnya termasuk yang paling luas dan cakep!

Foto Merzouga sadis dari iStock 😀

Dari beberapa review yang sempat saya baca, gurun pasir di Zagora agak nanggung dan bentuknya lebih ke gurun pasir berbatu. Jadi, kalau ada waktu lebih, dan rute yang kalian pilih memutar langsung ke arah Fes dari Marrakech (atau sebaliknya), sebaiknya langsung pilih ke Merzouga saja!

Zagora vs Merzouga

Begini kira-kira perbandingan jarak antara Zagora dan Merzouga dari Marrakech

Saya dan Ilva waktu itu memilih untuk menginap di gurun pasir di daerah Merzouga karena rute yang kami tempuh memutar dari Casablanca-Marrakech-SaharaDesert-Fes-Chefchaouen-Marrakech. Awalnya saya sempat mempertimbangkan perjalanan pulang pergi (ada paket 2 hari 1 malam) dari Marrakech ke Zagora saja, dan kemudian melanjutkan perjalanan naik kereta malam dari Marrakech ke Tanger, baru dilanjut ke Chefchaouen dan Fes. Tapi setelah menelaah Google Maps dengan saksama, sepertinya rutenya akan lebih efektif kalau dibuat memutar. Dan ternyata rute semacam ini memang cukup populer untuk menghemat waktu perjalanan secara keseluruhan. Maka pilihan tur gurun pun jatuh pada Merzouga!

Sahara Tour route

Rute “Sahara Tour” selama 3 hari 2 malam

Menentukan agen perjalanan dari sekian banyak pilihan

Naah, ini adalah bagian paling penting dan lumayan bikin saya pusing plus deg-degan menjelang hari keberangkatan. Dari sekian waktu yang saya sisihkan untuk berselancar di internet mencari informasi tentang tur ke Gurun Sahara ini, saya beberapa kali menemukan cerita pengalaman tak mengenakkan 😥 Ada yang katanya ditipu dan terpaksa membayar macam-macam biaya tambahan yang tak disebutkan dalam paket tur, ada yang menceritakan harus bertahan berjam-jam kepanasan dalam perjalanan panjang seribuan kilometer dengan alasan AC mobil yang rusak. Bahkan ada juga yang kemudian diserahterimakan ke tur lain begitu sampai di gurun, tapi kemudian ditelantarkan dan tidak mendapatkan layanan yang layak.

Memang ada beberapa teman saya yang menyarankan untuk beli paket tur langsung setelah tiba di Maroko. Di Marrakech misalnya, atau di kota lainnya yang bisa dijadikan titik awal tur ke gurun. Harganya kabarnya cukup murah dibandingkan jika kita memesan online. Bahkan ada yang harganya setengah dari paket tur yang saya pesan! Hanya saja, mengingat kami tak bisa mengalokasikan waktu lebih untuk mencari tur langsung di Marrakech, dan karena saya pun semakin parnoan dan khawatir akan kehabisan kursi, akhirnya kami putuskan untuk merogoh kocek lebih dalam dan memesan paket tur online.

Salah satu di antara agen Sahara Tour yang sempat saya hubungi. Keder juga pas liat harga paketnya 310 atau bahkan 425 euro 😅

Ada beberapa agen yang menawarkan paket private tour seharga 310 euro-an, untuk 2 orang. Kalau shared transportation+private accommodation, ada yang 250 euro

Awalnya, saya menghubungi salah satu teman yang sekitar dua tahun lalu jalan-jalan ke Maroko dengan itinerary yang mirip seperti rute yang saya rencanakan. Dia cerita kalau jasa cameltrekking.com yang dipakainya waktu itu sangat memuaskan. Sayangnya si cameltrekking sudah full-booked di tanggal yang saya tanyakan 😭 Tapi, Omar dari cameltrekking kemudian merekomendasikan supaya saya menghubungi Ibrahim dari Moroccan Trips.

Saya sempat ragu-ragu karena review operator tur ini di Trip Advisor masih sangat sedikit. Memang sih semuanya review bagus, tapi tetap saja agak waswas gimanaaa gitu… Dan setelah membandingkan harga dari beberapa operator tur yang sempat saya hubungi, membahas berbagai kemungkinan terburu dengan Ilva, serta mempertimbangkan bahwa agen perjalanan “baru” biasanya akan sangat mementingkan kepuasan konsumen agar tak ada review yang jelek, akhirnya kami memutuskan untuk memesan private tour dari Moroccan Trips ini!

Komunikasi berlangsung via WhatsApp. Ibrahim mengirimkan beberapa foto dari rute perjalanan yang akan ditempuh. Setelah deal tanggal dan paket yang diinginkan, saya harus mentransfer uang muka ke rekeningnya Ibrahim. Sebetulnya proses pembayaran bisa dilakukan lewat Paypal, tapi entah kenapa waktu itu sedang ada masalah dan saya jadi harus mentransfer ke rekening setempat di Maroko. Walaupun sempat ragu-ragu, alhamdulillaah semuanya lancar dan tak ada masalah.

Begini balasan emailnya waktu pertama saya hubungi. Usut punya usut, ternyata beberapa penulisan “ch” di sana dilafalkan dengan “sh”. Jadi mungkin si Ibrahim lebih banyak belajar secara audio? *perhatikan penulisan “chower” dan “wiches” 😁

Kalau dilihat dari bahasa Inggris di balasan emailnya, si Ibrahim memang terkesan sedikit kurang meyakinkan. Tapi setelah bertemu langsung, pengucapan bahasa Inggrisnya lumayan bisa diterima kok. Dia juga bisa bahasa Spanyol sedikit-sedikit (eh, apa bahasa Prancis yak) 😊

Di inquiry pertama, saya menyampaikan bahwa kami tak keberatan untuk berbagi transportasi asalkan tenda tempat menginapnya private. Sebagian besar tur yang harganya relatif lebih murah di luar sana memang kebanyakan menawarkan paket shared transportation, baik itu mobil 4WD atau minivan. Tapi mungkin karena Moroccan Trips ini masih baru dan belum banyak customer-nya, cuma saya dan ilva yang jadi peserta tur selama tiga hari dua malam itu *jadi private tour beneran deh 😀

Secara pribadi, saya berani merekomendasikan Moroccan Trips, terutama karena harganya yang cukup bersaing dibandingkan private tour lainnya. Si Ibrahim nyetir-nya lumayan ngebut sih, tapi masih dalam batasan aman kok. Namanya juga mengejar waktu untuk sampai di tempat tujuan, ya. Selain itu, orangnya suka mengobrol dan cerita macam-macam, tapi tak terlalu “cerewet” juga 😁

Abang2 supir kami selama tiga hari itu 😀 *foto diambil di depan hotel tempat menginap hari pertama

Sepanjang perjalanan menuju gurun, kami beberapa kali ketemu campervan begini. Kata Brahim itu kebanyakan orang2 dari Eropa, terutama dari Prancis, yang bawa campervan punya sendiri! Soalnya bisa banget kaan nyebrang dari Eropa sanaaa…

Dari beberapa blog yang saya temukan, ada juga yang merekomendasikan berbagai tur besar seperti Ando Travel di sini. Review-nya bagus, dengan lebih dari 1.000 pengguna! Tapi ternyata tur yang sudah punya nama semacam ini pun tak menjamin semuanya akan berjalan lancar. Ada juga sebagian review yang menceritakan pengalaman kurang menyenangkan dari Ando Travel ini. Jadi yaa, memang ada unsur nasib-nasiban juga perihal pemilihan operator tur ini.

Perjalanan menuju Merzouga

Seperti yang sempat saya singgung di atas, perjalanan menuju Merzouga dari Marrakech membutuhkan waktu sekitar 10 jam. Kalau ditambah dengan beberapa kali pemberhentian di sepanjang jalan, total waktu yang kami habiskan di mobil waktu itu hampir 16 jam. Tapi tak mengapa, karena pemandangan sepanjang jalan juga cakep dan breathtaking!

Perjalanan dari Marrakech ditempuh dalam waktu 2 hari 1 malam, sebelum kemudian tiba di Merzouga dan dilanjutkan lagi naik unta ke tenda di tengah gurun. Beberapa di antara lokasi yang kami mampiri selain melintasi Pegunungan Atlas, di antaranya adalah Ait Ben Haddou, Ouarzazate, Dades Gorges, Todra Gorge di Tinghir, dan lainnya.

Rute perjalanan yang ditempuh selama 3 hari 2 malam dari Marrakech ke Merzouga dan lanjut ke Fes

Pemberhentian pertama untuk istirahat dan foto2 😁

Ait Ben Haddou

Ait Ben Haddou dari kejauhan *saya crop abiiis fotonya 😁

Konon kabarnya banyak film terkenal yang shooting-nya di sini

Pengeen deh rasanya beli karpet, tapi awak tak pandai menawar 😅

Pemandangan pegunungan dari puncak Ait Ben Haddou. Oiya, tiket masuknya gratis lhoo!

Candle light dinner di hotel hari pertama 😁

Ngomong-ngomong, kabarnya tak sedikit dari paket tur ke Gurun Sahara ini yang kongkalikong dengan bermacam toko di sepanjang perjalanan. Tipikal tur-tur lainnya juga sih, yang mungkin memang sudah kerja sama bagi hasil dengan toko-toko semacam ini. Nah, sepertinya salah satu keuntungan memesan private tour adalah tak ada pengalaman seperti itu yang kami alami. Ibrahim bahkan mengatur rute perjalanan yang agak membelok dan lebih “sepi” yang tak banyak dilewati mobil yang ukurannya lebih besar. Kami juga bisa lebih bebas berhenti di pinggir jalan untuk sekadar foto-foto random. Bahkan ada satu lokasi yang jalannya agak masuk ke dalam dari jalan besar dengan sirkuit berbatu. Saya sama Ilva sempat deg-degan juga karena tak tahu mau dibawa ke mana 😅 *udah gitu si Ibrahim sempat-sempatnya bercanda dan bilang, “Takut ya kalau saya bawa ke mana, dan ternyata saya orang Al-Qaeda” 😂

Kontras banget ya “hutan” hijau dan tanah gersang di belakang sana!

Pashmina di mana2 😁

Jalan menyusuri Todra Gorges

Pemandangan Atlas Mountain

Pashmina lagi! 😁

Seperti apa rasanya naik unta di gurun?

Hari ke-2 perjalanan, kami sampai di Merzouga sekitar pukul 3 sore. Ibrahim mengajak saya dan Ilva untuk mampir ke rumahnya dan kami disajikan pizza tradisional homemade ala Berber yang dibuatkan oleh keluarganya. Saya bahkan sempat menumpang shalat di rumah Ibrahim 😊

Gurun pasir mulai terlihat dari kejauhan

Dibikinin Berber pizza di rumahnya Brahim

Setelah mengisi perut, kami sempat melipir sebentar ke sebuah “danau” kecil sebelum kemudian diantar ke pinggiran gurun. Di sana kami dinaikkan ke atas unta dan dibawa menuju spot untuk menikmati sunset.

Sadis beut pasti ya perjalanan yang sudah ditempuh mobil 4WD ini!

Unta-unta lagi parkir di pinggiran gurun 😁

Kalau ditanya seperti apa rasanya naik unta? Saya cuma bisa bilang “kapok” dan mungkin tak akan mau mengulang lagi pengalaman yang sukses bikin badan pegal-pegal ini! Tulang pantat sungguh rasanya sakit sekali 😭 Mungkin ini gara-gara cara duduk saya yang kurang pas juga, karena beberapa orang di belakang saya tampak menikmati dan tetap bisa foto-foto dari atas unta mereka. Sementara saya, cuma bisa deg-degan hampir sepanjang perjalanan, membayangkan apa yang terjadi kalau saya jatuh atau si unta rubuh ke samping dengan badan yang menggencet kaki saya *iya, lebay banget memang khayalannya 😂 Pasalnya, saya dinaikkan ke unta yang paling depan dari grup kami (di depan saya ada grup lain), dan unta saya itu bisa dibilang agak kurang tenang pembawaannya 😅 Si unta berkali-kali menyeruduk bapak yang menuntun di depannya. Jadi badan saya lumayan kaku sepanjang perjalanan selama hampir satu jam!

Posisi duduknya kira2 sama dengan rombongan di depan itu. Tapi karena unta saya suka heboh sendiri, saya takut kalau kaki saya terlalu kuat menekan badannya, si unta bakal berontak. Jadi saya berusaha sekuat tenaga menahan kaki supaya “ngambang” dan tidak menyentuh badan si unta! Padahal goyang kiri-kanan juga kan sepanjang perjalanan, badan pun sukses pegal2 😅

Sahara Desert

Tapi tetep seru siiiih 😁

Selain rasa pegal, saya juga merasa bersalah pada si unta yang harus mengangkut tubuh berat saya  Tapi saat saya posting foto naik unta ini, ada salah satu komentar di Facebook yang menyinggung kalau itu memang mata pencarian orang setempat. Dan sistem transportasi semacam ini kan sudah ada sejak dahulu kala. Jadi, tak ada salahnya kok menaiki si unta, selama cara mereka memelihara unta-unta itu sesuai dengan etika. Pembahasan di sini juga bisa jadi referensi lebih lanjut. Alhamdulillaah-nya siih, si bapak yang memandu unta saya sepertinya akrab dengan si unta 😁

Selesai menikmati sunset, si bapak yang menuntun unta di depan saya bahkan minta difotoin bareng untanya 😁 *foto dari Ilva

Hanya saja, karena memang sudah tak tahan dengan rasa sakit di tulang bokong, saya dan Ilva memutuskan untuk jalan kaki saja di paruh kedua perjalanan. Tapi ternyata ini juga bukan keputusan tepat, sodara-sodara! Kaki unta ternyata sungguh panjang. Jadi, kecepatan jalannya pun sulit diimbangi dengan kaki manusia. Apalagi di tengah pasir gurun yang berkali-kali membuat kaki tenggelam. Alhasil kami sukses ngos-ngosan dan keringatan sepanjang perjalanan sekitar 15 menit menuju tenda 😂

Beginilah sudut pandang kalau jalan kaki mengimbangi unta 😂

Saran saya, kalau tak terlalu penasaran dengan seperti apa rasanya naik unta, pilih saja paket mobil 4WD atau ATV. Dan kalau tetap ingin tahu seperti apa rasanya naik unta, mungkin kalian bisa coba minta paket camel ride yang lebih singkat ke penyedia tur.

Mobil atau ATV juga bisa jadi opsi

 

… daan kemudian kami pun mendarat dengan selamat di tenda cakep di tengah gurun 😍

Bersambung ke rencana posting-an berikutnya tentang review tempat menginap di Erg Chebbi, Merzouga

Sahara Desert Luxury Camp

Tenda cakep! *foto dari Booking.com

 

4 responses to “Perjalanan Panjang Menuju “Gurun Sahara”

  1. Baca pengalaman naik unta Adek, aku jadi ingat pengalaman naik kuda aku…Aku ketakutan pas naik kuda, dan pernah juga naik gajah #ketakutanjuga 😀 Mungkin kalau naik unta, aku bakal lebih takut lagi ya, secara unta tinggi banget gitu…

    • Hehe iya mbaaak, udah gitu kan kakinya kurus ya, jadi berasa gak stabil 😅
      Duh, kalau kuda serem dia abareru trus lari kenceng juga ya mbaak 😱

    • Enaak, Sartika 😋 Isinya ada kentang juga, trus kayaknya pake bumbu kare 😁
      Hehe iyaa, bentuknya kayak roti isi ya

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s