Debut Nyetir di Jalanan Bersalju Hokkaido

Sebagai makhluk tropis yang menghabiskan 24 tahun hidupnya di tanah air tercinta dengan suhu rata-rata di atas 30 derajat Celsius, sesungguhnya saya paling tak tahan dengan yang namanya cuaca dingin. Dari beberapa kali pengalaman main ke Nagano, atau saat salju turun di Tokyo, hidung ini paling tak kuat menahan rasa pedih akibat terpaan angin dingin, selain tentunya hawa dingin yang menusuk tulang. Walaupun begitu, hasrat hati yang ingin melihat hamparan salju yang luas, didukung undangan mbak Nunung yang sedang research visit ke Hokkaido University, membulatkan tekad saya untuk berangkat ke Hokkaido sekitar akhir Februari lalu 😁

Musim dingin di Jepang tahun ini bisa dibilang cukup “hangat”, termasuk di Hokkaido yang biasanya masih sangat dingin dan saljuan bahkan hingga sekitar bulan April. Dengan pertimbangan suhu dan ramalan cuaca yang diberitakan di TV, akhirnya rencana escape dua hari ke Hokkaido ini pun nekat dieksekusi.

Untuk menghemat biaya, berangkatnya saya pakai miles ANA, pulangnya naik LCC 😀

Hokkaido bisa dibilang tidak terlalu ramah bagi pengguna transportasi umum. Cukup banyak lokasi wisata yang lebih mudah diakses dengan kendaraan pribadi karena jadwal kereta atau bus yang terbatas. Dua kali kunjungan sebelumnya ke Hokkaido pun selalu saya niatkan menyewa mobil dan menyetir sendiri. Tapi mengingat kemampuan menyetir yang sungguh masih jauh dari mumpuni, saya sempat dilema apakah sebaiknya pasrah saja ikut bus tour dan jangan terlalu memaksakan diri menyewa mobil di tengah jalanan bersalju. Kalau menyetir mobil sendiri, rute perjalanan memang akan lebih fleksibel, tapi risikonya juga gede, cuy! Saya belum bisa membayangkan menyetir di jalanan licin akibat salju yang sudah mengeras jadi lapisan es. Apalagi ada beberapa teman (orang Indonesia dan orang Jepang sendiri) yang bilang kalau nyetir di Hokkaido itu sungguh bahaya! Ngeremnya tak boleh mendadak dan harus ambil ancang-ancang cukup jauh. Salah satu teman saya bahkan ada yang cerita kalau mobil yang dia setir sama sekali tak berhenti di perempatan saat lampu merah bahkan setelah direm! Si mobil lempeng aja jalan terus begitu. Untung waktu itu tak ada mobil lain dari sisi kiri kanan, katanya 😱

Jadi, sebagai alternatif, saya juga sudah browsing sana-sini mencari tur mana yang paling feasible untuk perjalanan satu hari bolak-balik dari Sapporo. Seperti yang sempat saya sebutkan juga di postingan target jalan-jalan tahun 2019 ini, awalnya saya tertarik ikut tur ke Abashiri untuk menumpang kapal pemecah es di Laut Okhostk. Hanya saja, perjalanan ini akan membutuhkan waktu minimal 8 jam pulang pergi dari Sapporo! Belum lagi ada risiko permukaan es di atas laut bisa saja tidak muncul hari itu. Maka Akhirnya pilihan jatuh pada one-day-tour ke Asahikawa dan Biei, dengan pemberhentian utama di Asahiyama Zoo, diakhiri dengan menikmati lightup di Blue Pond di Biei. Salah satu penyedia turnya bisa dilihat di sini, dengan harga paket sekitar 5,500 yen per orang. Hanya saja, satu hal yang masih saya takutkan adalah risiko sulitnya mencari tempat makan yang muslim-friendly kalau ikut tur dari perusahaan Jepang semacam ini.

Ke Asahikawa itu sekitar sentengahnya Sapporo-Monbetsu

Nah, sekitar tiga hari menjelang keberangkatan, berita di TV membahas kalau cuaca di Hokkaido makin menghangat dan jalan raya di Sapporo mulai “kering” walaupun tentunya masih ada tumpukan salju tinggi di kiri kanan jalan. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung konfirmasi meminta laporan pandangan mata ke mbak Nunung sambil juga mencari informasi live camera di jalan tol menuju Asahikawa untuk memastikan apakah memungkinkan kalau saya nekat menyetir mobil sendiri dari Sapporo.

Screenshot dari iHighway. Itu simbol kamera bisa diklik satu-satu untuk melihat kondisi jalan

Salah satu interchange yang saya pantau 😀

Izin dari suami (yang khawatir dan tak percaya melepas saya menyetir sendiri di jalan bersalju) berhasil didapat setelah saya berkali-kali menunjukkan screenshot live camera selama tiga hari berturut-turut 😁 Taaaapi, setelah mendarat di Sapporo, saya sempat deg-degan melihat pemandangan hamparan tumpukan salju dari jendela kereta di sepanjang perjalanan dari bandara New Chitose *apa-apaaan iniii?? 😅

 

Di perjalanan menuju apartemen mbak Nunung, gimanalah ini jalan raya masih putiiiih *yang di jalan besar dekat stasiun siih rutin dibersihin

Walaupun masih setengah ragu-ragu, begitu mendarat di Stasiun Sapporo saya langsung mendatangi tempat rental mobil karena sehari sebelumnya sudah tak ada pilihan yang bisa di-booking online. Mengikuti saran dari beberapa teman yang sudah berpengalaman menyetir di tengah salju, saya memesan mobil 4WD yang dilengkapi dengan ban khusus untuk jalan bersalju (studless tire).

Di hari H keberangkatan besoknya, sekitar setengah jam dari waktu penyewaan mobil yang saya pesan, salju turun cukup lebat di Sapporo 😱 Jarak pandang pun cukup buruk, dan saya jadi ciut membayangkan kalau harus menempuh perjalanan sekitar 150 km sekali jalan di tengah kondisi seperti itu. Saya sempat berpikir apa sewa mobil dibatalkan saja dan putar haluan memesan tur dengan bus yang sempat saya pertimbangkan sebelumnya 😅

Saya kembali mengecek website iHighway. Alhamdulillaahnya terlihat kondisi jalan tol yang tetap bersih dari salju. Sepertinya jalan tol memang selalu dibersihkan secara rutin. Akhirnya kami putuskan untuk menunggu sebentar, siapa tahu salju mereda. Sekitar 15 menit kemudian, setelah jarak pandang membaik, dan dengan pertimbangan jalan tol yang masih “bersih”, diputuskanlah untuk tetap nekat berangkat!

Tak ada kendala berarti dalam perjalanan dari Sapporo ke Asahikawa. Jalan tol dan jalan raya bersih dari salju. Tumpukan salju bekas-bekas setelah dibersihkan tentunya menumpuk di badan jalan, tapi tak ada risiko ban slip sama sekali. Kami juga sempat mampir di salah satu kedai ramen yang menyediakan menu muslim-friendly di Asahikawa sebelum lanjut ke kebun binatang Asahiyama untuk antri menonton parade penguin 😁

Ramen Yotsuba

Salah satu penguin di Asahiyama Zoo

 

 

Naah, yang jadi masalah sebenarnya adalah perjalanan nekat ke Biei sore-sore setelah kebun binatang tutup. Seperti biasa, saya dengan niatnya sudah mengumpulkan informasi beberapa spot menarik yang bisa didatangi di Biei di tengah musim dingin. Blue pond yang masuk dalam rute bus tour sengaja saya coret dari itinerary. Karena lokasinya semakin menjauh dari Asahikawa, yang berarti akan menambah waktu perjalanan pulang, dan juga karena saya sempat agak “kecewa” waktu ke sana musim panas tahun 2015 lalu. Berhubung waktu yang tersedia amat sangat terbatas, saya dengan semena-mena memilih Mild Seven Hills sebagai tujuan sore itu -yang kalau dari foto-foto di Google Maps sih gila-gilaan cakepnya- dan menunggu matahari terbenam di sana.

Di perjalanan ke Mild Seven Hills inilah saya baru benar-benar merasakan menyetir di atas aspal yang masih tertutup salju! Sempat terjadi insiden ban mobil sedikit terperosok salju gara-gara saya mencoba jalan di sisi pinggir jalan. Pasalnya saya takut bemper mobil rusak kalau dibiarkan terus-terusan menabrak tumpukan salju di sisi tengah jalan sisa dari mobil-mobil sebelumnya. Setelah beberapa kali gagal mencoba manuver ban mobil, saya langsung panik dan mulai meratapi kebodohan diri sendiri. Mana jalanan sepi dan tak nampak mobil lain yang lewat 😱 Ada untungnya juga mobil yang saya pesan 4WD. Setelah turun dari mobil dan mengamati sejenak kondisi ban yang agak terbenam salju, saya kembali duduk di belakang setir dan memutar-mutar sedikit posisi ban sambil menginjak gas kencang-kencang 😁

Alhamdulillah tak butuh waktu berapa lama sampai kami berhasil lolos dari jebakan salju. Setelah itu saya tak mau lagi menyetir ke pinggir jalan, dan memutuskan masuk ke tengah saja kalaupun ada tumpukan salju tinggi yang ingin dihindari agar tak mengenai bemper mobil.

 

 

Akhirnya kami berhasil mendarat di spot parkir di sekitar Mild Seven Hills tak berapa lama sebelum matahari terbenam. Semua langsung heboh dan berlarian menghampiri hamparan salju putih di bebukitan 😍  Tapi dinginnya sungguh tak ketulungan! Kata Etty (salah satu anggota rombongan hari itu) keterangan suhu di hp menunjukkan “feels like -12C” 😱

Heboh difoto dari dalam mobil tak berapa jauh dari lokasi Mild Seven Hills

Si bapak2 ini sungguh berdedikasi foto2nya!

Menjelang sunset

Akhirnya kesampaian jugaa ketemu hamparan salju cakep beginiiii….

Setelah sampai setengah jalan, kami sempat ragu-ragu mau lanjut terus sampai ke atas bukit atau cukup berpuas diri dan balik kanan saja karena tak tahu ada apa di ujung sana. Tapi yaaa, mumpung sudah jauh-jauh sampai ke sini, dan karena mas-mas yang papasan di jalan balik bilang kalau pemandangan di atas bagus, kami pun bertahan menembus cuaca dingin walaupun tangan beku dan muka berasa pedih *lebay 😁

Mas2 yang di belakang itu yang bilang pemandangan di atas cakep

Mbak Nunung kenapa posenya mesti begitu ya :p

Peserta rombongan hari itu

Pemandangan sunset dari puncak bukit 😍😍😍

Ada yang kesampaian bikin angel’s wings

Dan berhubung saya tak suka menyetir di malam hari, kami langsung berangkat pulang begitu hari mulai gelap. Di perjalanan pulang (dan perjalanan pergi juga sebenarnya), kami sempat “dibuntuti” mobil patroli yang sungguh saya curiga sengaja keluar barengan setelah kami dari rest area dan terus ngekor sampai beberapa menit kemudian di sepanjang jalan tol. Dari dua road trip saya ke Hokkaido sebelumnya, selalu ada kejadian ditilang polisi yang sukses bikin saya agak trauma. Jadi, kali ini saya dengan hati-hati menyesuaikan kecepatan mobil dengan limit yang ditentukan supaya petugas-petugas di mobil patroli itu tak punya kesempatan menyetop saya, huh! 😏

Singkat cerita, kami berhasil mendarat dengan selamat di Sapporo. Setelah mengembalikan mobil dan membereskan prosedur pembayaran, perjalanan hari itu ditutup dengan menikmati jingisukan all-you-can-eat di Kirin Beer Garden. Semua pulang dengan perut kenyang dan hati senang 😋

Suzuki swift yang menemani perjalanan seharian itu

Dapet kupon safety driver pas balikin mobil 😀

Jingisukaaaaaan….. 😋

Advertisements

13 responses to “Debut Nyetir di Jalanan Bersalju Hokkaido

  1. Waw, kalo baca cerita pengalaman nyetir Adek kok aku berasa Adek keren banget ya 🙂 すごい…Dan melihat tumpukan saljunya, doa saya pun makin diperkencang semoga bisa segera mewujudkan impian jalan-jalan ke Hokkaido 🙂

  2. Huaaaa….
    Bagus banget pemandangannya, mbak!!! Mupengs bingids!
    Transportasi di Hokkaido itu memang gak ramah dgn solo traveler ya.. pas ksana jd terpaksa ikut one day trip. Hix…

    • Iyaaa, vik, cakep banget emang saljunyaaa… Padahal itu mbak perginya udah lewat peak musim dingin. Kalo pas lagi peak-nya, kayaknya pohon2 pun ketutupan salju gituu….

      Iya nih, Hokkaido luas banget trus kan sepi, trus mungkin masing2 orang hampir punya mobil sendiri, jadi agak rugi kali ya klo dibikin rute transportasi umum banyak2 *analisis semena2 😁

  3. masyaAllah bagus banget mbak saljunya…hmm, semoga suatu hari nanti bisa berkunjung ke hokkaido..aamiin

    • Iyaaa, padahal ini udah lumayan lewat peak saljunya.. Klo lagi ujan salju gede, numpuknya parah kayaknya 😅

      Aamiiin… InsyaAllah bisa segera kesampaiaaan.. 😊

  4. Mba, sy rencana mau ke hokkaido jg dan mau pinjam mobil. Liat2 info katanya SIM international indonesia ga berlaku, kok mba bisa pinjam mobil ya?

    • Halo, Akai
      Iya nih, sayangnya SIM internasional Indonesia gak berlaku di Jepang 😥
      Kebetulan saya tinggal di Jepang dan punya SIM sini 😊
      Kalau gak nyetir sendiri, mungkin pilihannya mesti ikut tur ya, ato sewa mobil sekalian supirnya..

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s